Siapakah ‘Ibadurrahman di dalam Al Qur’an #1

Bismillah…

Surat Al Furqan ayat ke 63 – 68 menjelaskan tentang karakteristik manusia ‘Ibadurahhman.

Seperti pada ceramah-ceramahnya, ustadz Nouman Ali Khan selalu menjelaskan makna kata per kata ayat Al Quran.

Pada video ini ustadz menjelaskan makna kata Abd. Bentuk jamak dari kata Abd adalah ‘Abid’ dan ‘Ibad’.

Ketika Allah swt menggunakan kata ‘Abid’ artinya kata tersebut diperuntukkan untuk seluruh hambaNya, baik yang beriman ataupun yang tidak. Semuanya adalah ‘Abid’ (hamba) di hadapan Allah.

Namun ‘Ibad’ (hamba) maknanya berbeda. Dan surat Al Furqan ayat ke 63, diawali dengan kalimat وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ – ‘ibadurrahmaan.

Padahal sesungguhnya Allah swt memiliki banyak sebutan nama selain ‘ibadurrahman, misalnya saja ‘ibadullah (hamba Allah), ‘ibadulkhaliq (hamba Sang Pencipta). Akan tetapi Allah swt memilih kata ‘ibadurrahman di surat Al Furqan.

Saat Allah swt menggunakan kata ArRahman, kata tersebut menggambarkan/mengandung arti mengenai level cinta, kasih sayang, kepedulian pada level yang ekstrim, dan bersifat segera (istilah ustadz Nouman AK).

Sehingga maksud dari kata ‘Ibadurrahman adalah seorang hamba Allah yang akan mendapatkan kasih sayangnya Allah, cintanya Allah, perhatiannya Allah, rahmat dan ampunannya Allah dalam level yang berlebih (ekstrim) dan spesial, yang bersifat langsung (segera), bukan nanti nanti/immediate.

Singkatnya ‘ibadurrahman adalah kelompok manusia yang dicintai dan disayangi oleh Allah dengan cara yang Luar Biasa.

Surat Al Furqan ini menjelaskan tentang siapa saja yang dimaksud dengan ‘ibadurrahman oleh Allah;

1. Manusia yang berjalan di muka Bumi dengan rendah hati di hadapan Allah swt

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya : Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.  (QS Al Furqan:63)

Maksudnya adalah mereka hidup di dunia, mereka beraktivitas di Bumi dengan rendah hati (haunan). Segala bahasa tubuhnya, semua tatapannya, cara berbicaranya, pada kesemuanya itu tidaklah terdapat kesombongan. Mereka tidak pernah merendahkan orang lain, memandang hina kepada orang lain.

Ingatlah, bahwa Allah swt menghargai dan memuliakan semua manusia, keturunan nabi Adam a.s., seperti yang disebutkan di dalam Al Quran:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

yang artinya Kami memuliakan semua anak keturunan Adam. (QS Al Israa ayat 70)

Jadi siapa kita, dengan lancang, berani merendahkan orang lain yang ada di hadapan kita. Allah saja Yang Menciptakan manusia, memuliakan mereka seluruhnya.

Salaaman

Lalu bagaimana kita bisa mengetahui kalau diri kita terbebas dari kesombongan itu? Bagaimana kita tau kalau kita sudah rendah hati?

Allah swt memberitahukan caranya di kalimat ayat selanjutnya. وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Yang artinya apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al Furqan:63)

Apabila ada orang yang menghina kita, berkata kasar kepada kita, membuat kita sakit hati, membuat kita jengkel/kesal/marah dsb, maka kita menghadapinya dengan Salaaman. Dihadapi dengan ketenangan, dengan kedamaian. Selow aza.

Ada laki laki dan perempuan yang mendatangi Rasulullah saw ketika itu. Dan mereka berteriak kepada Rasulullah saw. Padahal mereka muslim, namun Rasulullah saw tidak terganggu atau kesal dengan sikap mereka. Rasulullah saw tetap tenang, di sisi lain, para sahabat ingin membalas laki laki dan perempuan ini, tapi Rasulullah saw menenangkan mereka.

Allah swt pun memerintahkan Nabi Musa a.s. berkata lembut لَّيِّنًا  kepada Firaun (Quran surat TaaHaa ayat 44).

Salaaman secara bahasa bermakna berbicara dengan tenang. Cara berbicara yang tidak menyakiti, tidak membuat orang lain marah. Kita harus benar-benar belajar bagaimana menghadapi macam-macam karakter manusia dengan ketenangan dan kedamaian. Inilah karakteristik ‘Ibadurrahman yang pertama.

Kisah Imam Abu Hanifah.

Ibunya Imam Abu Hanifah bertanya pada anaknya, lalu dijawab oleh Imam Abu Hanifah. Namun begitu mendengar jawabannya ibunya bilang “kamu gak tau apa-apa”. Kemudian sang ibu pergi bertanya kepada seorang Da’i. Karena tidak tau jawabannya, lalu Da’i tersebut memohon izin untuk mencari tau jawaban dari pertanyaan tersebut.

Rupanya sang Da’i pergi menemui Imam Abu Hanifah (tempat bertanyanya para muslimin saat itu). Kemudian Imam Abu Hanifah memberikan jawaban pertanyaan ibunya tersebut sekaligus berpesan kepada si Da’i agar merahasiakan hal tersebut pada ibunya, bahwa dirinya mendapatkan jawabannya dari Imam Abu Hanifah.

 

To be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s