Ustadz Nouman Ali Khan : Perpecahan Umat Islam

Bismillah..

Dalam video ceramah berdurasi 20menitan kali ini, ustadz Nouman Ali Khan memulai dengan membacakan surat Asy Syura ayat 14 (42:14).

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ أُورِثُوا الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِهِمْ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ

Artinya :Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.

Dikatakan dalam surat tersebut bahwa sifat manusia itu suka berbantahan satu sama lainnya. Umat-umat terdahulu pun memiliki sifat yang sama, saling berbantahan di antara sesama mukmin.

Di awal surat tersebut, Allah mengatakan bahwa manusia terpecah belah dan saling berbantah setelah memiliki ilmu pengetahuan. Seseorang yang memiliki ilmu (agama), kita sebut sebagai ulama. Idelanya Ulama ini adalah sebagai pemersatu umat, dengan keilmuan yang dimilikinya. Namun ada sebagian ulama yang tersebut tidak memakai ilmu (agamanya) untuk mempersatukan umat Islam.
بَغْيً
Baghyan berasal dari kata baghy yang bermakna dorongan untuk mendominasi yang lainnya. Ada ego dalam diri, kebanggaan pada diri sendiri, yang memiliki maksud untuk mendominasi orang lainnya. Maka para raja, penguasa yang berupaya menguasai atau mengambil alih suatu wilayah disebut sebagai Baghy, keinginan untuk mendominasi yang lain.

Allah ﷻ mengatakan berselisih pendapat itu menampakkan kesombongan. Maksudnya adalah, dalam mengemukakan perbedaan pendapat tersebut ada keinginan untuk mendominasi. Sehingga ketika kita melihat perselisihan tersebut akan jelas terlihat ego masing-masing. Bukan melihat tentang mencari kebenaran yang diperselisihkan. Bahkan mereka pun menggunakan Al Quran dan Hadist, namun tujuan sebenarnya bukan untuk mencari kebenaran akan suatu permasalahan. Itulah baghyan baynakum.

Mereka saling berdebat karena kesombongan. Hal ini perlu kita waspadai sebagai umat muslim. Karena umat muslim saat ini saling berselisih dan berbantahan, all the time. Layaknya penyakit (wabah) yang melanda umat muslim di seluruh dunia.
Seharusnya dalam perselisihan dan perbedaan, kita dapat saling menasehati atau mengoreksi kesalahan saudara kita dengan baik, dengan kerendah hatian, dengan kasih sayang.

Sikap Menghadapi Perbedaan
Ketika para ulama (terdahulu) berbeda pendapat, pertama pertama yang dia lakukan adalah mendoakan ulama lain. Kemudian, ulama itu menyampaikan pendapatnya dan mengatakan Allah yang Maha Mengetahui.
Sehingga tidak ada saling menjatuhkan dan menyakiti terhadap yang berbeda pendapat. Dan tidak akan memunculkan perpecahan.

Perpecahan yang disebabkan oleh baghyan baynakum adalah hal yang tidak Allah ﷻ sukai. Ketika Allah memberitahukan suatu ayat (kebenaran), seharusnya membawa kepada persatuan bukan perpecahan. Allah menyukai kasih sayang dan sikap lemah lembut umat muslim dalam menyampaikan kebenaran (berdakwah).

Dalam surat Al Imran ayat 159, Allah mengajarkan Rasulullah langkah langkah dalam menghadapi perbedaan:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

Artinya :

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka (Al Imran : 159)

Dalam ayat ini Allah ﷻ meminta Nabi Muhammad ﷺ untuk bersikap lemah lembut kepada para Sahabat dalam menyampaikan kebenaran Islam (firmanNya), bukan dengan kasar dan bersikap keras. Karena hal tersebut akan membuat para Sahabat menjauh dari Rasulullah ﷺ

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya :

Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (Al Imran:159).

Kemudian di lanjutan ayat 159 Al Imran adalah mengenai kelapangam hati dengan memaafkan sesama muslim, apabila pernah berbuat salah dan mengecewakan diri kita atau berbeda pendapat dengan kita. Lalu mohonkan ampunan terhadap orang yang menyakiti kita, mendzolimi kita. Saat kita sedang memanjatkan doa untuk diri kita, untuk kedua orang tua kita, untuk keluarga kita, kita juga diperintahkan Allah untuk mendoakan orang yang bersalah pada kita.

Selanjutnya adalah wasyawirhum fil amr yakni, bermusyawarah atau berdiskusi dengan mereka. Libatkanlah dan pertimbangkan pendapat mereka dalam memutuskan suatu perkara atau pengambilan keputusan. Dan yang terakhir

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Kalau kita sudah memutuskan, maka bertawakalah (percayakan dan serahkan) kepada Allah swt.
Kembali kepada surat Asy Syura ayat 14 mengenai murka Allah tentang perpecahan, Allah ﷻ tidak menyukainya (berpecah belah), Allah akan menangguhkan azab kepada hambanya yang dimurkai pada waktu yang ditentukannya (Asy Syura :14).

Lalu Allah mengatakan di lanjutan ayatnya mengenai kondisi keturunan kaum mukmin yang saling berselisih, mereka akan لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مُرِيبٍ ;
1. Mereka tidak memiliki keyakinan (having no confidence) dalam beragama.
Syak adalah keraguan yang menghapus keyakinan.
2. Tidak yakin apa yang sebaiknya dilakukan. Murib adalah keraguan yang menghambat seseorang melakukan sesuatu. Mereka ragu apa yang sebaiknya dilakukan.
Generasi ini akan menjadi bimbang tentang kebenaran Islam akibat perselisihan dan perdebatan yang muncul.
Semoga Allah swt menjaga kaum muslimin dari perpecahan yang merugikan Islam.

 

#MatrikulasiNAKIndonesia #NAKIndonesia #NoumanAliKhan

Konsep Bekerjasama

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

Artinya : Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. As Syura : 13)

Allah swt menurunkan islam kepada manusia bukan hanya sebagai petunjuk dalam kehidupan pribadi individu hambaNya. Akan tetapi sekaligus sebagai petunjuk dalam hidup bermasyarakat. Dan kesemua petunjuk itu terdapat di dalam Al Qur’an.

Kehidupan manusia dipenuhi dengan perjuangan. Di dalam kehidupannya tersebut, manusia esensinya adalah berjuang. Manusia berjuang untuk bertahan hidup. Hal yang sama juga dilakukan oleh hewan. Manusia dan hewan sama-sama berjuang untuk bertahan hidup.

Ketika manusia sudah mampu untuk bertahan hidup, maka akan ada level perjuangan selanjutnya. Saat manusia tinggal dalam suatu RT/RW, hidup dalam suatu komunitas, terlibat dalam suatu organisasi lingkungan masyarakat. Maka kita sebagai manusia akan mulai memperjuangkan sesuatu di luar kebutuhan diri kita. Mungkin untuk keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitarnya. Singkatnya berjuang selain untuk diri sendiri. Dan hal ini terjadi pada hampir semua manusia.

Kemudian ada level perjuangan selanjutnya, yaitu memperjuangan sebuah keyakinan, pergerakan, kepercayaan. Dan hal ini seringkali berwujud intangible (tidak dapat disentuh, dilihat). Misalnya seseorang yang memperjuangkan hak pendidikan, hak perlindungan hukum dalam suatu negara, dan lain sebagainya. Mereka memiliki tujuan jelas yang ingin dicapai.

Perjuangan Muslim

Allahuma a’innii ‘alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.

Artinya : Ya Allah bantu saya mengingat-Mu, bantu saya bersyukur kepada-Mu, bantu saya menyempurnakan dan memperindah ibadah pada-Mu

Begitu banyak doa yang kita panjatkan adalah tentang diri kita. Perjuangan diri kita melawan hawa nafsu, kemalasan, hal hal keduniawian. Namun seiring berjalannya waktu, kuta sebagai manusia akan mencapai tahap 3 perjuangan (sesuatu yang bukan untuk diri kita).

Dalam setiap upaya tersebut kita meyakini, setiap usaha, setiap kebaikan yang diusahakan adalah untuk kebaikan diri kita. Apabila orang lain menerima manfaat kebaikan dari usaha/amal yang kita lakukan, maka kebaikan itu datangnya dari Allah swt.

Akhlak seorang Mukmin adalah: apapun kebaikan yang saya lakukan, saya takkan bisa memberi manfaat kepada orang lain. Semua amal, apapun itu, hakikatnya untuk menolong diri sendiri. Kita mengeluarkan sedekah adalah untuk diri kita, kita sholat, puasa, zakat, semuanya adalah untuk kebaikan diri kita.

Namun Islam mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya menyangkut diri Anda sendiri. Jika kita seorang muslim, maka Islam bukan hanya tentang urusan diri sendiri.

Keberagaman Islam Di Dalam Kehidupan Masyarakat Modern

Seiring islam berkembang dan terserbar di seluruh dunia. Apabila kita terbiasa pergi ke banyak negara lain dan bertemu dengan muslimin setempat. Maka kita akan menyadari bahwa islam saat ini sungguh beragam. Islam di Indonesia mayoritas bermahzab Syafi’i. Ketika kamu pergi ke Yaman, mayoritas penduduknya bermahzab Hambali. Saat kamu plesiran ke Maroko, warganya sebagian besae bermahzab Maliki. Di Mesir, mahzab resmi negara tersebut adalah Hanafi. Sedangkan Saudi bermahzab Hambali. Setiap negara Islam, hampir semuanya memiliki mahzab resmi.

Sikap Kita Terhadap Keragaman Islam

Sikap yang diajarkan oleh ustadz Nouman adalah menghargai ragam perbedaan. Hal ini senada dengan sebagian besar pendapat ulama di Indonesia untuk menghormati hal hal yang bersifat khilafiyah dan furu’. Namun tegas dalan masalah prinsip dasar dan akidah.

Bekerjasamalah dalam Kebaikan dan Takwa

Ditengah keberagaman umat muslim, maka kita tetap dianjurkan menjalin kerjasama bukan permusuhan. Di dalam surat Al Maaidah ayat 2 Allah swt berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Ta’aawanaa biasanya diartikan sebagai kerja sama. Jadi ayatnya berarti, “Bekerjasamalah dalam kebaikan dan takwa,” itulah terjemah kasarnya.

Namun dalam bahasa Arab kata “Ta’aawun” berasal dari “‘Awun“. “‘Awun” berarti bantuan, bantuan yang serius. Bukan sekedar bantuan kecil, tapi “‘Awun” adalah bantuan yang serius. Menolong satu sama lain dengan serius. Memberikan banyak bantuan kepada satu sama lain.

‘Alal-birr“, terhadap semua hal yang baik. Allah “azza wa jalla bahkan tidak merinci amalan apa, Dia hanya berkata, “Al birr.

Al birr” adalah kata yang paling komprehensif dalam bahasa
Arab untuk “kebaikan”. Apa artinya? Segala sesuatu yang baik. Jika
kebaikan itu berlangsung, maka dukunglah.

1. Tolong Menolong Dalam “Birr” Dan “Taqwa”

Bekerja dengan baik tidak serta merta memberi garansi bahwa kuta sudah memiliki “Taqwa“. Kegiatan mengingatkan satu sama lain adalah Taqwa yang dimaksud pada ayat ini.

2. Jangan bekerjasama dalam dosa.

Pastikan diri kita tidak bahu membahu dalam perbuatan dosa. Meskipun kita pihak yang diajak.

Surat Al Maaidah ayat 2 merupakan aturan pokok konsep bekerja sama dalam Islam. Kita harus bekerja sama dalam setiap kebaikan dan melupakan embel-embel. Kita mengembangkan organisasi, namun bukan berarti kita loyal kepada organisasi, tapi kepada pekerjaan untuk Allah. Itu saja.

To be continued insyaAllah

Siapakah ‘Ibadurrahman di dalam Al Qur’an #2

 Tulisan sebelumnya

Karakteristik ‘ibadurrahman yang selanjutnya adalah

2. Mereka yang melaksanakan Qiyam Al Lail

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

Artinya : Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. (QS. Al Furqan ayat 64)

Orang-orang yang melaksanakan Tahajud di malam hari adalah karakteristik dari ‘ibadurrahman. Golongan yang Allah sangat kasihi, sangat Allah cintai.

 

3. Mereka yang berdoa meminta kepada Allah swt agar dirinya  tidak melihat Neraka

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

Artinya: Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. 

Jahannam atau Neraka adalah tempat yang mengerikan baginya. Mereka tidak ingin tinggal di Neraka untuk waktu yang sebentar apalagi waktu yang lama. Bahkan melihat Neraka pun meraka tidak mau. Continue reading “Siapakah ‘Ibadurrahman di dalam Al Qur’an #2”

Doa Penyejuk Hati

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ
مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ
هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ
أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ
الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ
صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.”

Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.” Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”?
Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya(kepada yang lain).”

(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani).

Siapakah ‘Ibadurrahman di dalam Al Qur’an #1

Bismillah…

Surat Al Furqan ayat ke 63 – 68 menjelaskan tentang karakteristik manusia ‘Ibadurahhman.

Seperti pada ceramah-ceramahnya, ustadz Nouman Ali Khan selalu menjelaskan makna kata per kata ayat Al Quran.

Pada video ini ustadz menjelaskan makna kata Abd. Bentuk jamak dari kata Abd adalah ‘Abid’ dan ‘Ibad’.

Ketika Allah swt menggunakan kata ‘Abid’ artinya kata tersebut diperuntukkan untuk seluruh hambaNya, baik yang beriman ataupun yang tidak. Semuanya adalah ‘Abid’ (hamba) di hadapan Allah.

Namun ‘Ibad’ (hamba) maknanya berbeda. Dan surat Al Furqan ayat ke 63, diawali dengan kalimat وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ – ‘ibadurrahmaan.

Padahal sesungguhnya Allah swt memiliki banyak sebutan nama selain ‘ibadurrahman, misalnya saja ‘ibadullah (hamba Allah), ‘ibadulkhaliq (hamba Sang Pencipta). Akan tetapi Allah swt memilih kata ‘ibadurrahman di surat Al Furqan.

Saat Allah swt menggunakan kata ArRahman, kata tersebut menggambarkan/mengandung arti mengenai level cinta, kasih sayang, kepedulian pada level yang ekstrim, dan bersifat segera (istilah ustadz Nouman AK).

Sehingga maksud dari kata ‘Ibadurrahman adalah seorang hamba Allah yang akan mendapatkan kasih sayangnya Allah, cintanya Allah, perhatiannya Allah, rahmat dan ampunannya Allah dalam level yang berlebih (ekstrim) dan spesial, yang bersifat langsung (segera), bukan nanti nanti/immediate.

Singkatnya ‘ibadurrahman adalah kelompok manusia yang dicintai dan disayangi oleh Allah dengan cara yang Luar Biasa.

Continue reading “Siapakah ‘Ibadurrahman di dalam Al Qur’an #1”

(Beragama) Islam itu Mudah #1

..Bismillah…

Pada tulisan ini, saya ingin menuliskan tentang ceramah ustadz Nouman Ali Khan mengenai topik yang sudah agak jarang diangkat belakangan ini.

Ustadz membuka ceramahnya dengan mengajak kita untuk memikirkan lebih dalam tentang surat An Nahl ayat ke 125.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik

Ketika mengundang seseorang, maka kita melakukan bentuk tindakan persahabatan, bentuk perbuatan baik, dan bentuk kasih sayang kepada seseorang. Ustadz Nouman AK menyampaikan konsep berdakwah di dalam surat An Nahl ini, yang maknanya adalah mengajak (mengundang) seseorang untuk mengenal Islam. Konsep dakwah itu sendiri adalah bentuk dari perbuatan kasih sayang kepada orang lain, menghargai orang lain/objek dakwah, bersikap lembut dan sopan kepada orang lain. Sehingga dakwah tidak dapat diwarnai dengan pesan-pesan kebencian, atau kata-kata yang merendahkan orang lain. Itulah maksud dari kata Ud’u dalam surat An Nahl. 

 

Kemudian ustadz menjelaskan tentang profound wisdom Al Quran pada kalimat إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ . Ilaa Sabili Rabbik kalau diterjemahkan artinya kepada jalan Tuhan-mu. Coba kita renungkan dan pikirkan bersama. Biasanya kalau kita memberikan undangan kepada orang lain, kita tidak mengundang seseorang dengan bilang “aku undang teman-teman ke jalan Sudirman besok ya” tapi kita akan bilang “aku undang teman-teman ke acara Meet Up besok ya”. Bisa temukan perbedaannya? 

Kalau kita mengundang seseorang kita tidak akan menyebutkan nama jalan atau detail alamat, tapi kita menyebutkan tujuan (acara) undangan tersebut. Kembali kepada surat An Nahl, ilaa sabili Rabbik mengatakan bahwa kita diundang kepada “Jalan Allah (Tuhan-mu)”. Undangan ini sangat tidak lazim. Allah mengundang kita ke JalanNya. Artinya apabila kita sudah berjalan ribuan kilometer di jalan Allah, ataupun kita baru sampai 50 meter perjalanan di jalan Allah, it is doesn’t matter. Karena berapapun panjangnya jarak yang sudah kita tempuh, hakikatnya kita sudah mencapai tujuan yang Allah inginkan, yaitu berada di Jalan Allah swt.

 

Continue reading “(Beragama) Islam itu Mudah #1”

Kajian Tafsir Perdana 2020

Kajian Tafsir Perdana LTQ Fikratusalam Semester Baru Tahun Ajaran 2020

Oleh Ust. Luthfi Firdaus Munawar. Lc., MA.,

Rasulullah ﷺ sedih mengetahui umatnya meninggalkan Al Qur’an.

Meninggalkan Al Qur’an menurut Ibnu Taimiyah:

  1. Tidak membacanya
  2. Tidak mempelajarinya
  3. Tidak mengamalkannya

Modal berinteraksi dengan Al Qur’an yaitu:

1) IMAN

Iman merupakan modal mendasar bagi seseorang yang ingin interaksi dengan Al Qur’an nya sustain.

Keyakinan kepada kebenaran Al Quran, mengimaninya bahwa Al Quran adalah kitab yang mulia yang berisi kalam Allah swt.

Di dalan Al Quran semua perintah atau syariat yang berat selalu dimulai dengan kalimat “wahai orang orang yang beriman” ya ayyuhaladzi na amanu.

Contoh ibadah yang berat adalah:

  1. Jihad
  2. Memberikan pendidikan kepada keluarga

2) Hati atau Qalbu

Modal selanjutnya adalah hati yang hidup (Al Qalbul Hayyi). Hati yang sensitif akan perbuatan dosa maksiat. Berkebalikan dengan hati yang mati. Hati yang mati -》sebesar apapun dosa yang dilakukan dia tidak menyesal atau bahkan malahan bangga.

Allah ﷻ menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah ﷺ melalui Hati atau Qalbu.